Hallo, ini merupakan kali pertama saya coba mereview sebuah film dalam bentuk tulisan.
Kesannya,
tentu saja saya sangat antusias karena film yang kami tonton bersama
hari ini adalah sebuah film lokal yang mengusung tema budaya Tionghoa di
Indonesia, yang berjudul CA BAU KAN (Hanya Sebuah Dosa).
Film
ini diangkat dari sebuah cerpen berjudul sama (re: Ca Bau Kan) karangan
Remy Sylado. Jujur saya pribadi kebetulan belum pernah membaca novelnya
langsung, namun melalui tontonan visual hari ini, lebih kurang saya
merasa dapat terjun langsung memahami cerita romansa yang kental akan
budaya yang coba disampaikan oleh si penulis.
Yang membuat
film ini unik adalah sang sutradara Nia Dinata, yang patut diacungi
jempol atas keberaniannya di zaman modern ini menyuguhkan film yang
sarat dengan tema budaya Tionghoa Indonesia yang kental pada Zaman
kolonial Belanda.
Plot atau alur yang digunakan oleh penulis adalah alur mundur, dimana kita seakan Flashback ke masa prakemerdekaan Indonesia di Batavia.
Singkat
cerita film ini menceritakan tentang seorang wanita tua bernama Giok
Lan (Niniek L. Karim). Dia adalah perempuan turunan Tionghoa yang
tinggal dan diadopsi dari kecil oleh keluarga Belanda. Setelah beberapa
tahun berlalu, ia memiliki keinginan untuk kembali ke Indonesia,
khususnya Batavia demi sebuah misi, yaitu ia ingin mencari tahu asal
usul keluarganya. Dan setelah diusut perempuan ini adalah anak kedua
dari seorang wanita Betawi bernama Siti Nurhayati atau akrab disapa
Tinung (Lola Amalia). Tinung adalah seorang Ca Bau Kan atau dalam bahasa
hokkian berarti 'perempuan', yang saat zaman kolonial diasosiasikan
dengan pelacur, gundik, atau perempuan simpanan orang Tionghoa. Pada
era 80-an pun istilah 'Cabo' menjadi istilah umum untuk para wanita
pekerja seks komersial.
Diusia muda Tinung telah menjadi
Istri ke-5 dari seorang lelaki tua yang kemudian meninggal tak lama
setelah memperistrinya. Tinung pun diusir oleh istri2 yang lain dan tak
mendapatkan hak warisan. Sejak saat itu Tinung sempat menjadi simpanan
seorang tauke (juragan) pisang Tionghoa berperangai kasar bernama Tan
Peng Liang (Moeljono).
Karakter Tinung sendiri digambarkan
sebagai seorang perempuan pasrah dan konflik yang kita temui sangatlah
banyak dimana menjadi seorang Ca Bau Kan merupakan pilihan satu-satunya.
Ia didera dengan begitu banyak kekerasan fisik dan kekerasan sexual.
Akhirnya Tinung melarikan diri dari Tan Peng Liang saat sedang
mengandung anak hasil hubungannya.
Sejak saat itu Tinung
yang tinggal dengan bibinya Saodah tidak memiliki pilihan lain, ia
dipaksa dan digojlok untuk menjadi penari cokek dan seorang Ca Bau Kan
di Kalijodo. Di Kalijodo inilah ia bertemu lelaki yang dicintainya Tan
Peng Liang lainnya (Ferry Salim) seorang pedagang tembakau kaya raya
dari Semarang.
Menurut saya pribadi ada sedikit
kejanggalan atau kelemahan di film ini, Salah satunya adalah posisi
tokoh Tinung (Lola Amaria) yang entah kenapa menjadi tenggelam ditelan
alur cerita yang sedikit ribet di film ini. Kisah ini malah berpusat
pada Tan Peng Liang Semarang (Ferry Salim) yang kedatangannya dari
Semarang ke Batavia sebagai pedagang tembakau yang kayaraya, telah
mengusik stabilitas sosial-politik-ekonomi kelompok Kong Koan, sebuah
kelompok Tionghoa dalam pemerintahan Hindia Belanda, Bahkan sampai
kematiannya.
Selebihnya begitu banyak kelebihan di film
ini yang membuat saya berdecak kagum. Sang sutradara Nia Dinata begitu
detail dalam menggarap karya ini, semua nilai historikal sangat ia
perhatikan, dari hal terkecil sampai hal terpenting sekalipun.
Sekian review
saya mengenai film Ca Bau Kan ini, jika tertarik untuk mengetahui
ceritanya lebih detail, saya sarankan membaca bukunya terlebih dahulu ,
karena biasanya dalam pembuatan film ada beberapa bagian yang tak di explore, namun sayang untuk dilewatkan...
Cheers :))
@achabp | Natasha belania pertiwi

Film Ca Bau Kan karya Nia Dinata

Buku Ca Bau Kan (Hanya Sebuah Dosa) karya Remy Sylado
Tidak ada komentar:
Posting Komentar